PERINGATAN HARI KELUARGA NASIONAL
(HARGANAS)
Ke -33

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi Sobat SMK Negeri 1 Kemusu semuanyaaa….
Haiii sobattt SMK semua ….semoga selalu baik-baik saja ya semua nya
Hari Senin tanggal 29 Juni Adalah hari yang Istimewa loh… hari apakah itu ?
Yaappp hari itu adalah Hari Keluarga Nasional atau Disingkat dengan HARGANAS
Berikut kutipan lengkap pidato Bapak Menteri Kependudukan dan Pembangunan/Kepala BKKBN Kita yakni Dr.Wihaji,S.Ag, M.Pd
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Sejahtera bagi kita semua….
Om Swastyastu Namo Buddhaya, Salam Kebajikan
Puji Syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan kekuatannya sehingga kita dapat memperingati momentum sacral bangs aini,
Yang ke -33. Dari hari keluarga tersebut bukan hanya sekedar hari tanpa makna namun itu juga sebagai momentum sakral bangsa ini. Karena hari ini bukan sekedar baris tanggal untuk seremonial, melainkan sebuah jeda kultural dan dan refleksi Nasional. Mari kita tengok Kembali rumah kita sendiri dan bertanya : sudahkah keluarga kita menjadi tempat bernaung yang aman, Tangguh dan siap melahirkan genersi pemenang ?
Sekarang ini kita sudah berada dipanggung peradapan modern yang bergerak cepat yakni sebuah era VUCA merupakan lanskap global yang dicirikan oleh
- Gejolak /Perubahan cepat (Volatility)
- Ketidakpastian (Uncertainty)
- Kerumitan (Complexity)
- Kebingungan Arah (Ambiguity)
Hari ini kita masuk di disrupsi teknologi digital dan pergeseran nilai sosial masuk tanpa permisi keruang keluarga melalui gawai yang tergenggam erat oleh anak-anak kita. Jika institusi keluarga sudah rapuh, arus zaman ini akan dengan mudah menggilas masa depan mereka. Maka ketangguhan keluarga bukanlah pilihan alternatif, melainkan keharusan mutlak dan urgensi nasional.
Ketangguhan keluarga ini berkorelasi linear dengan masa depan Indonesia. Kita sedang berada di jendela peluang historis: Bonus Demografi, ini merupakan peluang yang bisa melesatkan Indonesia menjadi kekuatan Ekonomi dunia. Namun kondisi ini bisa menjadi bencana demografi – ledakan pengangguran dan runtuhnya stabilitas sosial- jika ledakan usia produktif itu tidak berkualitas.
Oleh karena itu, transformasi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tidak boleh ditunda, dan itu tidak dimulai dari bangku sekolah atau dunia kerja, melainkan dari dalam Rahim ibu dan pengasuhan keluarga. Untuk mengkapitalisasi bonus demografi tersebut, maka kita harus memperkuat 3 pilar Utama Pembangunan Keluarga:
- Kesehatan
Kita harus menuntaska Stunting. Anak yang terhambat perkembangan otaknya akan kesulitan bersaing di era kecerdasan buatan atau AI. Pemenuhan gizi di 1000 hari Pertama Kehidupan harus menjadi Gerakan nasional di setiap dapur keluarga .
- Pendidikan Karakter
Jadikan Rumah sebagai madrasah abad 21. Disini Intergritas, kejujuran, dan kedisplinan ditanamkan untuk mencetak manusia adaptif dan kolaboratif.
- Ketahanan Mental
Jadilah Pelabuhan emosional yang stabil ditengah era yang penuh tekanan, agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang resilien dan tidak mudah menyerah.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air
Perbaikan kualitas SDM ini mustahil terwujud jika beban pengasuhan hanya diletakkan pada Pundak Ibu. Pada momentum ini, saya ingin berpesan khusus kepada para Ayah di seluruh Indonesia. Kehadiran fisik dan kedekatan emosional anda Adalah penentu kestabilan struktur kepribadian anak. Jamgan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena Fatherless Country—Dimana Ayah hadir secara fisik namun absen secara psikologis. Kekosongan peran ini seringkali digantikan oleh musuh besar dalam rumah yakni GAWAI. Jangan biarkan masa depan dan pola piker anak-anak kita dikuasai oleh algoritma digital yang tidak bermoral. Jangan biarkan meja makan sunyi karena sibuk menatap layar HP. Wahai para Ayah letakkan gawai anda dirumah, peluk anak-anakmu, ajak mereka berdialog dan batsi waktu layar (Screen time) mereka pada hal-hal yang produktif.
Kelalaian pengasuhan dan absennya figure orang tua ini memiliki dampak langsun pada meledaknya patologi sosial yang mengerikan hari ini. Adanya Tawuran antarpelajar, perundungan(Bullying) pergaulan bebas, hingga cengkeraman narkoba Adalah alarm darurat bahwa fungsi keluarga sedang Malfungsi.
Anak-anak yang terjerumus dalam kekerasan atau narkoba sering kali Adalah mereka yang kurang kasih sayang dirumah, sehingga mencari pelarian semu di jalanan.
Oleh karena itu, saya menghimbau seluruh orangtua:
Tangkal semua ancaman ini dari dalam rumah kita sendiri! Jangan tunggu sampai anak kita menjadi korban atau pelaku. Benteng pertahanan terbaik Adalah ketahanan keluarga. Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan, sehingga kemanapun anak kita melangkah, magnet kehangatan keluarga akan selalu menarik mereka pulang ke jalan yang benar.
Hadirin yang saya banggakan ,
Akhir kata, mari perbaharui paradigm akita. Keluarga bukan sekedar unit terkecil Masyarakat, melainkan hulu dari segala kebijakan public dan penentu arah Pembangunan Nasional. Kebijakan ekonomi dan infrastruktur yang megah tidak akan bermakna tanpa di imbangi oleh kualitas SDM yang bermoral dan bermental baja.
Mari rapatkan barisan, kepalkan tangan dan satukan tekat demi kehormatan bangsa serta masa depan generasi penerus kita. Mari kita bangun keluarga Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter mulia di Tengah era VUCA ini, agar kita siap memetik buah manis Bonus Demografi dan mewujudkan Impian besar Indonesia Emas 2045.
Selamat Hari Keluarga Nasional !
Cintai Keluarga dengan Cinta yang terencana untuk membentuk Keluarga Berkualitas, Indonesia Kuat, SDM unggul dan Bangsa Pemenang !
Terima kasih.
Wabillahi Taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Itu adalah kutipan pidato lengkap yang sangat bernas dari bapak mentri kita , yang penulis tidak bisa ambil secara sepotong -sepotong yang nantinya malah akan mengurangi makna dasar yang dibawa oleh isi pidatonya…
anak-anak tolong dipahami setiap kata, kalimat yang penuh makna ini , tanpa mengurangi apapun yang terselip di dalamnya ada makna pesan-pesan yang terlalu dalam. Coba kalian pahami dan bawa makna itu ke keluarga kita masing- masing sudahkah kita punya kelaurga impian seperti yang sudah diberikan dalam dalam pidato bapak menteri ini.
Sudahkah mencium tangan orangtua kalian?
Sudahkah kalian memeluk orangtua kalian sebelum berangkat sekolah?
sudahkah kalian minta do’a khusus kepada orangtua kalian?
sudahkah kalian makan bersama tanpa gawai dirumah?
sudahkah kalian jamaah atau sholat bersama keluarga kalian dirumah?
kembalikan semua itu pertanyaan-pertanyaan di diri kita …. SUDAAHKAAAH?
salam cinta dan bahagia
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
ADMIN
Hendri Lasmyastuti
